Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Juni 2010

Budaya Dasar

Ilmu pengetahuan tercipta karena adanya kebutuhan manusia untuk menguasai alam semesta dalam rangka mempertahankan kehidupannya. Sesuai dengan perkembangan kebutuhan manusia, ilmu pengetahuan pun berkembang dengan sangat pesatnya.

Ilmu pengetahuan tidak selalu membuat manusia menjadi lebih beradab dan mencapai kesempurnaan hidup, tetapi ilmu pengetahuan juga dapat menjadi bencana bagi manusia dan lingkungannya jika dikelola oleh manusia yang tidak memiliki moral kemanusiaan.

Meski pun secara umum ilmu pengetahuan lebih banyak manfaatnya bagi kehidupan manusia, tetapi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri bukannya tanpa kritik.

Kalangan postmodernisme mengkritik ilmu pengetahuan modern yang dianggap mereka telah gagal membentuk kepribadian manusia secara utuh. Ilmu pengetahuan modern pada sisi lain telah membuat pribadi manusia terpecah-belah oleh kepentingan-kepentingan bisnis, sehingga manusia tidak lagi memiliki jiwa yang independen.


Ilmu pengetahuan berkembang karena ada kebutuhan manusia untuk dapat mempertahankan diri. Untuk dapat bertahan, manusia harus dapat menguasai alam semesta. Penguasaan terhadap alam semesta itu dilakukan dengan tidak merusak tatanan alam itu sendiri. Kerusakan terhadap tatanan alam akan berdampak pada kehidupan umat manusia. Agar penguasaan alam semesta tidak berdampak pada perusakan, maka penguasaan terhadap ilmu pengetahuan perlu dibarengi dengan norma dan etika.

Ilmuwan harus mempunyai norma dan etika. Tanpa norma dan etika, ilmu pengetahuan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi keserakahan orang-orang tertentu yang lebih kuat Tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk menciptakan kesejahteraan umat manusia dengan tetap mempertimbangkan harmoni antara kehidupan umat manusia dan alam sekitarnya.


HAKIKAT MANUSIA

Berbicara tentang manusia maka satu pertanyaan klasik yang sampai saat ini belum memperoleh jawaban yang memuaskan adalah pertanyaan tentang siapakah manusia itu. Banyak teori telah dikemukakan, di antaranya adalah pemikiran dari aliran materialisme, idealisme, realisme klasik, dan teologis.

Aliran materialisme mempunyai pemikiran bahwa materi atau zat merupakan satu-satunya kenyataan dan semua peristiwa terjadi karena proses material ini, sementara manusia juga dianggap juga ditentukan oleh proses-proses material ini.

Sedangkan aliran idealisme beranggapan bahwa jiwa adalah kenyataan yang sebenarnya. Manusia lebih dipandang sebagai makhluk kejiwaan/kerohanian. Aliran realisme klasik beranggapan bahwa jiwa adalah kenyataan yang sebenarnya. Manusia lebih dipandang sebagai makhluk kejiwaan/kerohanian, dan aliran teologis membedakan manusia dari makhluk lain karena hubungannya dengan Tuhan.

Di samping itu, beberapa ahli telah berusaha merekonstruksikan kedudukan manusia di antara makhluk lainnya. Juga berusaha membandingkan manusia dengan makhluk lainnya. Dari hasil perbandingan tersebut ditemukan bahwa semua makhluk mempunyai dorongan yang bersifat naluriah yang termuat dalam gen mereka. Sementara yang membedakan manusia dari makhluk lainnya adalah kemampuan manusia dalam hal pengetahuan dan perasaan. Pengetahuan manusia jauh lebih berkembang daripada pengetahuan makhluk lainnya, sementara melalui perasaan manusia mengembangkan eksistensi kemanusiaannya.


HAKIKAT KEBUDAYAAN

Kebudayaan sering kali dipahami dengan pengertian yang tidak tepat. Beberapa ahli ilmu sosial telah berusaha merumuskan berbagai definisi tentang kebudayaan dalam rangka memberikan pengertian yang benar tentang apa yang dimaksud dengan kebudayaan tersebut.

Akan tetapi ternyata definisi-definisi tersebut tetap saja kurang memuaskan. Terdapat dua aliran pemikiran yang berusaha memberikan kerangka bagi pemahaman tentang pengertian kebudayaan ini, yaitu aliran ideasional dan aliran behaviorisme/materialisme. Dari berbagai definisi yang telah dibuat tersebut, Koentjaraningrat berusaha merangkum pengertian kebudayaan dalam tiga wujudnya, yaitu kebudayaan sebagai wujud cultural system, social system, dan artifact.

Kebudayaan sendiri disusun atas beberapa komponen yaitu komponen yang bersifat kognitif, normatif, dan material. Dalam memandang kebudayaan, orang sering kali terjebak dalam sifat chauvinisme yaitu membanggakan kebudayaannya sendiri dan menganggap rendah kebudayaan lain. Seharusnya dalam memahami kebudayaan kita berpegangan pada sifat-sifat kebudayaan yang variatif, relatif, universal, dan counterculture.


MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

Antara manusia dan kebudayaan terjalin hubungan yang sangat erat, sebagaimana yang diungkapkan oleh Dick Hartoko bahwa manusia menjadi manusia merupakan kebudayaan.

Hampir semua tindakan manusia itu merupakan kebudayaan. Hanya tindakan yang sifatnya naluriah saja yang bukan merupakan kebudayaan, tetapi tindakan demikian prosentasenya sangat kecil. Tindakan yang berupa kebudayaan tersebut dibiasakan dengan cara belajar. Terdapat beberapa proses belajar kebudayaan yaitu proses internalisasi, sosialisasi dan enkulturasi.

Selanjutnya hubungan antara manusia dengan kebudayaan juga dapat dilihat dari kedudukan manusia tersebut terhadap kebudayaan. Manusia mempunyai empat kedudukan terhadap kebudayaan yaitu sebagai 1) penganut kebudayaan, 2) pembawa kebudayaan, 3) manipulator kebudayaan, dan 4) pencipta kebudayaan.

Pembentukan kebudayaan dikarenakan manusia dihadapkan pada persoalan yang meminta pemecahan dan penyelesaian. Dalam rangka survive maka manusia harus mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya sehingga manusia melakukan berbagai cara.

Hal yang dilakukan oleh manusia inilah kebudayaan. Kebudayaan yang digunakan manusia dalam menyelesaikan masalah-masalahnya bisa kita sebut sebagai way of life, yang digunakan individu sebagai pedoman dalam bertingkah laku.


PENGERTIAN KASIH SAYANG, CINTA KEMESRAAN DAN PEMUJAAN

Kasih sayang, dan cinta merupakan milik semua orang. Manifestasi dari kasih sayang dan cinta dapat menciptakan lingkungan yang tenteram. Karena setiap individu menyadari makna yang paling hakiki dari rasa kasih sayang dan cinta. Dengan kasih sayang kita akan selalu menghargai karya orang lain.

Dengan cinta kita selalu menjaga lingkungan yang harmonis. Lingkungan yang harmonis berarti lingkungan yang berimbang dan jauh dari perusakan. Kemesraan merupakan perwujudan kasih sayang yang mendalam. Kemesraan dapat menimbulkan daya kreativitas manusia, yang berwujud bentuk seni. Bentuk seni dapat berbentuk seni rupa, seni pahat, seni sastra, seni suara. Pemujaan merupakan perwujudan cinta manusia kepada Tuhan. Kecintaan kepada Tuhan ini oleh manusia di antaranya diwujudkan dalam bentuk-bentuk pemujaan atau yang lebih kita kenal sebagai tempat beribadah.




MANUSIA DAN KEINDAHAN

Merenung artinya secara diam-diam memikirkan sesuatu hal kejadian dengan mendalam. Renungan adalah pembicaraan diri kita sendiri atau pembicaraan dalam hati kita tentang suatu hal.

Setiap kegiatan untuk merenungkan atau mengevaluasi pengetahuan yang telah dimiliki disebut dengan berfilsafat. Jadi berfilsafat adalah terjadinya proses pembicaraan, evaluasi dengan hati kita sendiri mengenai suatu peristiwa. Contoh hasil renungan yang menghasilkan pengetahuan yaitu Newton dengan gaya gravitasinya.

Keindahan adalah suatu susunan keserasian yang dapat menciptakan kesenangan bagi penglihatan dan pendengaran. Kehalusan merupakan sikap yang lembut dalam menghadapi orang lain. Lembut dalam mengucapkan kata-kata, lembut dalam sikap anggota badan. Sikap halus dan lembut merupakan cermin hati yang tulus serta cinta kasih terhadap sesama.


KEGELISAHAAN

Berbicara tentang manusia, berarti berbicara pula tentang media tempat manusia hidup. Media tempat manusia hidup adalah dunia. Untuk bisa memahami hakikat manusia maka harus pula memahami hakikat dunia dan hakikat kehidupan manusia di dunia.

Konsep yang dapat digunakan untuk memahami hal itu adalah konsep kosmologi, yaitu bagaimana manusia harus mengembangkan sikap hidupnya sehubungan dengan kedudukannya sebagai mikrokosmos.

Konsep yang lainnya adalah konsep ‘mendiami dunia’ sebagaimana yang dikemukakan oleh Huijbers.

Pada dasarnya konsep mendiami dunia mengandung arti pemenuhan kebutuhan atas aspek-aspek yang membentuk manusia.

Kesadaran manusia akan hakikatnya sebagai bagian dari kosmologi dan perannya sebagai mahluk yang ‘mendiami dunia’ maka lahirlah beberapa konsep yang dipakainya sebagai dasar manusia hidup.

Konsep-konsep tersebut adalah hidup sekedarnya, takdir, dan cakra manggilingan.

Apabila manusia tidak bisa menjaga hakikat dirinya dan hakikat hidupnya maka yang timbul adalah kegelisahan. Sumber dari kegelisahan adalah hawa nafsu dan sikap pamrih (tidak ikhlas).

Kedua hal ini akan menyebabkan munculnya sikap keserakahan dan konflik. Keserakahan dan konflik akan memunculkan ketakutan, kekecewaan, dan pada akhirnya adalah kegelisahan


PENDERITAAN

Terdapat berbagai alasan yang dapat mengakibatkan penderitaan, yaitu alasan fisik dan alasan moral.

Di samping itu penderitaan sebenarnya merupakan kelanjutan dari kegelisahan, artinya kegelisahan yang tidak bisa dikendalikan akan mengakibatkan penderitaan.

Selain kegelisahan, penderitaan juga disebabkan karena kekecewaan, yaitu apa yang diharapkan ternyata tidak diperoleh. Jadi penderitaan juga berhubungan dengan pamrih. Penderitaan juga berhubungan dengan ketakutan. Orang yang selalu merasa takut akan hidup menderita. Penderitaan yang menimpa hidup manusia banyak berhubungan dengan ‘daya hidup’ yang menjelma menjadi hawa nafsu.

Terdapat berbagai daya hidup yaitu daya hidup hewani, nabati, hewani, jasmani, rohani, rohmani, dan robbani. Daya hidup ini akan berpengaruh terhadap tingkat kesempurnaan hidup manusia yaitu tingkat An Nafs al Ammarah, al Lawwamah, al Mulhima, al Qana’ah, al Mut’mainnah, al Radiyah, dan al Kamilah. Untuk bisa menuju kesempurnaan hidup di mana hidup sudah tidak mengenal lagi kegelisahan dan penderitaan maka orang harus melakukan olah batin. Olah batin tersebut adalah dalam rangka menghilangkan nafsu dan pamrih. Terdapat olah batin yang harus diikuti supaya kesempurnaan jiwa dapat dicapai, yaitu mengembangkan sikap selalu instrospeksi, sabar, nrimo, dan ikhlas.

Selasa, 01 Juni 2010

Latar belakang yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Bagi Perempuan

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lain. Telah banyak riset yang membuktikan bahwa rokok sangat menyebabkan kecanduan, disamping menyebabkan banyak tipe kanker, penyakit jantung, penyakit pernapasan, penyakit pencernaan, efek buruk bagi kelahiran, dan emfisema. Rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan gagal jantung, serta tekanan darah tinggi, apalagi hal ini dilakukan oleh perempuan. Menggunakan rokok dengan kadar nikotin rendah tidak akan membantu, karena untuk mengikuti kebutuhan akan zat adiktif itu, perokok cenderung menyedot asap rokok secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama.
Merokok bukan saja milik kaum laki-laki. Merokok sudah menjadi gaya hidup kaum perempuan. Duduk-duduk di cafe, di pojok kota, jarang melihat perempuan tanpa sebatang rokok terselip di jarinya. Rokok dapat menjadikan hidup lebih keren. Lebih dari sekadar mengejar nikmatnya cita rasa nikotin belaka. Merokok dapat dilakukan dimana saja, umumnya orang-orang yang merokok hanya ingin memperoleh kenikmatan yang bersifat sementara tanpa memikirkan efek negatif dari rokok tersebut.
Kebiasaan merokok pada awal abad ke-20 sangat jarang di kalangan perempuan dan menjadi suatu hal yang lazim di kalangan perempuan setelah dilakukan laki-laki. Pada tahun 2006, sekitar 981(11.8%) perempuan merokok di Palembang. Walaupun perempuan perokok lebih sedikit dibandingkan laki-laki, perbedaan persentasenya semakin menurun. Sekarang, dengan perbedaan jumlah yang semakin sedikit diantara perempuan perokok dengan laki-laki perokok, perempuan menanggung beban berat penyakit yang bisa ditimbulkan akibat kebiasaan merokok ini.
Perempuan perokok yang sudah menopause memiliki kepadatan tulang lebih rendah daripada perempuan yang tidak pernah merokok. Perempuan perokok berisiko tinggi terkena patah tulang pinggul dibandingkan dengan perempuan nonperokok. Merokok juga dapat mengakibatkan kulit lebih cepat keriput sehingga penampilan perempuan perokok menjadi kurang menarik dan kelihatan lebih tua dari usianya. Perempuan menjadi target utama pemasaran tembakau yang bertema menjadi seseorang yang disenangi, mandiri, dan berat badan yang terkontrol. Pesan tersebut gencar disampaikan dalam berbagai bentuk iklan dengan memakai model yang berbadan langsing, menarik, dan atletis.
Perempuan merokok dengan alasan menghindari kelebihan berat badan dan menjadikannya sebagai identitas diri sebagai remaja yang mandiri dan menarik. Hal tersebut merupakan refleksi iklan tembakau. Kesan sosial dapat meyakinkan remaja bahwa kelebihan berat badan adalah lebih buruk daripada merokok. Iklan rokok juga menyebutkan bahwa rokok dapat menyebabkan badan lansing dan menekan nafsu makan.
Perempuan yang berperilaku merokok tertentu memiliki alasan tersendiri. Salah satunya bisa saja sebagai pelampiasan terhadap ketatnya perlindungan dan pengawasan yang dilakukan oleh orang tua. Selain itu, mungkin dapat juga sebagai bentuk kesetaraan atau kesamaan kemampuan dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan.
Dari latar belakang di atas kegiatan merokok sangat merugikan kesehatan khususnya perempuan , yang daya tahan tubuhnya tidak lebih rentan dari pada laki-laki. Jadi, kita dapat berpendapat atau berasumsi untuk lebih memilih mengikuti perkembangan zaman dalam hal pergaulan atau lebih memilih merusak kesehatan kita sendiri. Hal ini menimbulkan ketertarikan untuk diteliti dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat.

Rumusan
Perumusan dari tulisan ini adalah Gaya Hidup Perempuan. Untuk memberikan arah yang jelas terhadap masalah yang akan dibahas yaitu sebagai berikut :
1. Bagaimana perilaku perempuan yang merokok di Tower Bilyard Palembang Square?
2. Apa yang melatarbelakangi perempuan merokok di Tower Bilyard Palembang Square?

Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum Penelitian
Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
Untuk mengetahui pemahaman perempuann mengenai perilaku merokok.
Untuk mengetahui perilaku atau kebiasaan perempuan merokok.

Tujuan Khusus Penelitian
Untuk melihat gambaran pemahaman perempuan mengenai perilaku merokok di Tower Biliar Palembang Square
Untuk mengetahui hal yang melatarbelakangi perempuan yang merokok di Tower Bilyard Palembang Square.

Manfaat Penelitian
1 Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai tambahan informasi dan juga bermanfaat bagi perkembangan ilmu-ilmu sosial khususnya penelitian sosial dalam mengkaji dan memahami perempuan yang merokok.
.2 Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini adalah :
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan informasi kepada masyarakat tentang gambaran dari perilaku perempuan yg merokok di Tower Bilyard Palembang Square.
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi informasi dan masukan kepada masyarakat untuk dapat menyikapi dengan memberikan pengetahuan yang dapat lebih membantu masyarakat dalam menjaga kesehatannya.

Ada beberapa penelitian yang sudah dilakukan mengenai perilaku merokok, para perokok memilki kecenderungan kelemahan dalam hal ingatan dan nalar berfikir (kecerdasan) dari pada mereka yang tidak merokok khususnya mereka yang masih dalam pertengahan usia dewasa. Sebuah penelitian yang dilaporkan oleh Severine Sabia dan koleganya dari Institusi Kesehatan Nasional dan Penelitian Medis di Villejuif Prancis menyatakan bahwa para peneliti Perancis menyebutkan, data yang dikumpulkan dari 5000 warga Inggris, ditemukan bahwa mereka yang merokok lebih rendah tingkat ingatan, bernalar, kosakata, dan juga kecakapan verbalnya, dari pada mereka yang tidak merokok. Dari hasil penelitian itu juga menemukan bahwa merokok sangat berhubungan dengan penurunan mental pada usia muda, seperti halnya juga mempengaruhi kerapuhan fisiknya di kemudian hari.
Tidak ada orang yang tidak tahu dampak negatif rokok bagi kesehatan. Efek racun pada rokok ini membuat pengisap asap rokok mengalami resiko (disbanding yang tidak mengisap rokok) 14 kali menderita kanker paru-paru, mulut, dan tenggorokkan, 4x menderita kanker eshopagus, 2 kali kanker kandung kemih, 2 kali serangan jantung. Rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan gagal jantung, serta tekanan darah tinggi. Menggunakan rokok dengan kadar nikotin rendah tidak akan membantu, karena untuk mengikuti akan kebutuhan zat adiktif itu, perokok cenderung menyedot asap rokok secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama. Namun tidak ada batas aman bagi orang yang terpapar asap rokok.
Sedangkan pada perempuan secara khusus dapat menimbulkan menopause dini. Perempuan yang merokok sangat mungkin untuk mulai memasuki masa menopause sebelum usia 45 tahun dan juga membuat mereka menghadapi resiko osteoporosis dan serangan jantung, demikian laporan beberapa peneliti Norwegia. Menurut Dr. Thea F. Mikkelsen dari University of Oslo dan rekannya, di antara sebanyak 2.123 perempuan yang berusia 59 sampai 60 tahun, mereka yang saat ini merokok, 59% lebih mungkin mengalami menopause dini dibandingkan dengan perempuan yang tidak merokok. Bagi perokok paling berat, resiko menopause dini hamper dua kali lipat. Namun, perempuan yang dulunya merokok, tapi berhenti setidaknya 10 tahun sebelum menopause, pada dasarnya kurang mungkin untuk berhenti menstruasi dibandingkan dengan perokok sebelum usia 15 tahun.
Kemungkinan para remaja telah mulai menciba merokok pada saat mereka masih duduk di bangku SMP dan SMU. Menurut Bambang Gunawan berdasarkan data dari Komisi Nasional Perlindngan Anak, bahwa saat ini ada sekitar 71,3 % remaja di Indonesia yang pernah merokok dan bahkan ada sekitar 3,8 % anak berusia 9 tahun sampai 12 tahun yang sudah menjadi perokok pemula (www.pakuanraya.com.hasil download 4 mei 2008). Sedangkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Retna Mahriani dkk yang berjudul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Siswa SLTP di Kotamadya Palembang Untuk Merokok” (1992:17) diungkapkan bahwa dari responden yang telah diteliti yaitu siswa SLTP (remaja pria) yang termasuk dalam kategori remaja dan bermukim di Kodya Palembang diantaranya melakukan kegiatan merokok sekitar 56,75 %. Umumnya mereka telah melakukan merokok lebih dari satu bungkus perhari yaitu sekitar 56,25 %, dan mereka telah melakukannya lebih dari satu tahun di bangku sekolah dasar.
Hasil penelitian pula diungkapkan siswa SLTP di Kota Palembang merokok karena ajakan teman, dan merokok atas kemauan sendiri. Sedangkan alas an-alasan yang menyebabkan siswa SLTP tersebut untuk merokok adalah untuk coba-coba, takut diejek teman, karena iklan yang didengar atau dilihatnya, agar tampak dewasa, dan jantan. Menurut Retna Mahriani dkk kegaiatan merokok tidak saja dipengaruhi oleh teman-temannya, tetapi juga oleh keluarga, dari ayah dan dari kakak.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Arif Handoyo (dalam Adriansyah Lukita) tampak bahwa terjadi perubahan latar belakang atau motif remaja dalam merokok. Awalnya motif yang mendasarinya adalah untuk memenuhi kebutuhan social (mempermudah pergaulan, diterima dalam kelompok, dan sebagainya), dan untuk memenuhi kebutuhan psikologis (mendapatkan ketenangan, mengusir stress, kejenuhan, dan sebagainya). Setelah menikmati kenikmatan rokok yang sesungguhnya, tidak lain sebagai kebanggaan symbol-simbol tertentu.
Menurut Adriansyah Lukita (2007:31-32) remaja memberikan makna tertentu terhadap perilaku merokok sebagai symbol-simbol tertentu, yakni sebagai ekspresi kebebasan, kedewasaan, lambing pergaulan dan gaya hidup modern. Masing-masing remaja menginterprestasikan perilaku merokok mereka secara berbeda-beda, tergantung dari motif yang mendasari mereka untuk merokok.
Berbeda dengan ketiga hasil penelitian yang telah diungkapkan diatas, dimana yang menjadi subjek penelitiannya adalah laki-laki. Sedangkan yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah perempuan yang merokok di Tower Bilyard Palembang Square. Selain itu dalam penelitian ini ada tiga pokok permasalahan yang akan diungkapkan yaitu pertama, bagaimana perilaku perempuan yang merokok di Tower Bilyard Palembang Square berkenaan dengan kondisi sosial, dan gaya hidup yang meliputi sifat-sifat perempuan tersebut. Kedua, bagaimana persepsi pengunjung mengenai perempuan yang merokok di Tower Bilyard Palembang Square.

Desain Penelitian
1 Jenis dan Sifat PenelitianMelihat sifatnya, pendekatan kualitatif desainnya bersifat umum, dan berubah-ubah atau berkembang sesuai dengan situasi di lapangan. Kesimpulannya, desain hanya digunakan sebagai asumsi untuk melakukan penelitan, oleh karena itu desain harus bersifat fleksibel dan terbuka. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, yaitu menggambarkan keadaan-status fenomena (gejala sosial) perilaku perempuan dalam kehidupan masyarakat, khususnya perempuan yang merokok di Tower Bilyard Palembang Square.
2 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini berada di Tower Bilyard, Palembang Square. Alasan dipilihnya lokasi penelitian Tower Bilyard ini karena Tower Bilyard merupakan salah satu tempat yang selalu ramai di setiap harinya dimana kebanyakan pengunjung yang dating ke lokasi tersebut adalah untuk mencari kesenangan dan keceriaan dengan bermain bilyard, dan diantaranya terdapat perempuan yang sering merokok di lokasi tersebut. Setelah itu konsultasi dengan Manager Tower Bilyard untuk mencari informasi tentang pengunjung bilyard khususnya perempuan yang sering merokok.
3 Batasan Konsep
Batasan konsep dalam penelitian ini adalah :
Perempuan yang melakukan perilaku merokok, khususnya perempuan yang merokok di Tower Bilyard Palembang Square.
Kelompok perempuan yang diteliti adalah perempuan yang merokok pada usia 18-25 tahun.
Tehnik Pengumpulan Data
Dalam tehnik pengumpulan data digunakan cara yang seefisien mungkin dalam mengikat dan mengumpulkan data yang diperlukan. Berbagai tehnik memiliki kelebihan tersendiri, sehingga penggunaan secara bergantian akan dapat saling melengkapi. Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Library Research (Kepustakaan)
Adalah dengan mempelajari, mengumpulkan data atau keterangan dan buku perpustakaan yang berhubungan dengan masalah yang diambil atau dibahas. Data kepustakaan diperoleh dari buku-buku, laporan dan data-data yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas, data kepustakaan ini bertujuan untuk mendukung data primer.
2. Observasi (Pengamatan)
Observasi yang dilakukan adalah observasi langsung dan tidak terlihat, observasi dilakukan di daerah penelitian, yaitu Tower Bilyard, Palembang Square, untuk mendapatkan gambaran umum berlatar belakang fisik, sosial, ekonomi, dan budaya dari fenomena yang dijadikan fokus penelitian. Observasi ini ditujukan untuk menghubungkan latar belakang materi dalam fenomena sosial yang diteliti.
3. Wawancara Langsung atau Questioner
Dalam cara ini, pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan tanya jawab dengan pengunjung yang dipilih, dengan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan yang sudah dipersiapkan.

Tehnik Analisis Data
Tehnik analisa data didasarkan pada pendekatan yang digunakan , yaitu sebagai berikut :
Fenomenologi
Peneliti memulai mengorganisasikan semua data atau gambaran menyeluruh tentang fenomena pengalaman mengenai perempuan yang merokok di Tower Bilyard Palembang Square, membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan pinggir mengenai data yang dianggap penting kemudian melakukan pengkodean data, menemukan dan mengelompokkan makna pernyataan yang dirasakan oleh responden dengan melakukan horizonaliting yaitu setiap pernyataan pada awalnya diperlakukan memiliki nilai yang sama. Selanjutnya, pernyataan yang tidak relevan dengan topik dan pertanyaan maupun pernyataan yang bersifat repetitif atau tumpang tindih dihilangkan. Pernyataan tersebut kemudian di kumpulkan ke dalam unit makna lalu ditulis gambaran tentang bagaimana pengalaman perempuan yang merokok di Tower Bilyard Palembang Square. Selanjutnya peneliti mengembangkan uraian secara keseluruhan dari fenomena perempuan yang merokok di Tower Bilyard Palembang Square sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut. Kemudian mengembangkan textural description (mengenai fenomena yang terjadi pada responden) dan structural description (yang menjelaskan bagaimana fenomena itu terjadi). Peneliti kemudian memberikan penjelasan dari fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai fenomena tersebut.


Data dan Sumber Data
1 Data Primer
Data primer didapat melalui wawancara mendalam (indepth interviewing) terhadap informan dengan menggunakan pedoman wawancara (interviewing guide). Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai kebiasaan atau gaya hidup perempuan yang merokok, mengetahui latar belakang perempuan yang merokok di Tower Bilyard Palembang Square.
2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data di luar data primer yang menunjang penelitian. Sumber data sekunder adalah studi pustaka, buku-buku ilmu-ilmu sosial yang berkaitan dengan tujuan penelitian, artikel tentang perempuan perokok, buku filosofi tentang rokok, majalah, novel, dan bahan-bahan untuk data yang diperoleh dari internet, buku tentang metodelogi penelitian kualitatif, dan buku-buku lain yang berkaitan dengan focus penelitian. Data-data yang berkaitan tentang perempuan yang merokok, kesehatan perempuan, gaya hidup perempuan, kebiasaan dan prilaku perempuan yang merokok, serta data mengenai pengunjung bilyard baik itu pada waktu siang hari dan malam hari di Tower Bilyard Palembang Square.

Unit Analisis Data
Unit analisis adalah satuan-satuan yang menunjuk pada subjek penelitian. Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu, yaitu perempuan dalam trend perempuan perokok di Tower Bilyard Palembang Square.

Analisis dan pembahasan ini akan menjelaskan mengenai bagaimana gambaran pemahaman perilaku perempuan yang merokok di Tower Biliar Palembang Square serta memahami latar belakang dari perilaku merokok perempuan itu sendiri, seperti yang sudah dijelaskan pada bab pertama mengenai tujuan dari penelitian ini. Untuk menggambarkannya akan digunakan data primer dan data sekunder, dimana data primer diperoleh melalui pedoman wawancara dengan 5 (lima) orang informan yaitu perempuan yang merokok di Tower Biliar Palembang Square, dan seorang informan pendukung yang merupakan salah satu pegawai Tower Biliar Palembang Square tersebut. Sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur-literatur yang berhubungan dengan penelitian ini.
1. Pemahaman Perempuan Tentang Perilaku Merokok
Menurut Moeliono (1990, h.752) merokok adalah menghisap rokok, sedangkan rokok itu sendiri dapat diartikan sebagai gulungan tembakau (kira-kira sebesar kelingking) yang dibungkus (daun, nipah, kertas, dsbnya). Perilaku merokok dapat dikatakan sebagai kegiatan sewaktu menghisap tembakau yang dilakukan oleh individu. Pada mulanya, perilaku mereka kebanyakan terjadi pada sat individu berusia remaja, kebiasaan merokok ini akan terus berlanjut sampai individu memasuki masa dewasa dan biasanya orang merokok untuk mengatasi masalah emosional. Bagi sekelompok orang, merokok merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan sekaligus dapat dijadikan teman dalam menjalankan kegiatan-kegiatan yang tergolong santai, bahkan ada pula yang beranggapan bahwa merokok merupakan sebuah bantuan yang sangat dibutuhkan untuk mengurangi kegelisahan ataupun ketegangan. (Sarafino dalam Sewy, 2004, h.1)
Perilaku merokok bukanlah bukanlah perilaku yang asing lagi disekitar kita. Bahkan kelompok umur perokok pun sangat bervariatif dan bukan menjadi dominasi kaum pria saja. Telah banyak penelitian yang mengungkapkan tentang bahaya merokok. Namun hal tersebut tampaknya tidak mengurangi jumlah perokok yang ada. Bahkan kebiasaan merokok ini menjadi trend dikalangan remaja seiring dengan banyaknya sponsor perusahaan rokok pada pagelaran musik atau kegiatan olahraga
Di Indonesia perilaku merokok pada perempuan bukanlah hal yang tabu lagi. Bahkan perilaku ini sudah banyak dilakukan pada remaja perempuan,pada awalnya perilaku merokok muncul akibat dorongan atau motivasi yang berasal baik dari dalam diri individu maupun dari luar diri individu (pengaruh lingkungan). Motivasi merokok dari dalam diri 9motif intrinsic) muncul karena pengaruh rasa penasaran dan rasa inin tahu individu terhadap kenikmatan dan cita rasa rokok/tembakau, sedangkan motivasi merokok dari luar (motif ekstrinsik) muncul akibat dari pengaruh lingkungan seperti keluarga, teman dan iklan.
Perilaku merokok yang dilakukan oleh perempuan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kondisi psikologis, lingkungan, keluarga dan sebagainya. Namun setiap individu yang mengkonsumsi rokok memiliki pemahaman yang berbeda-beda tentang perilaku merokok.
Merokok Dapat Meningkatkan Rasa Percaya Diri Pada Perempuan
Ada beberapa dari informan yang mengidentikkan perilaku merokok sebagai simbol kepercayaan diri,menurut mereka merokok dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam pergaulannya. Seperti yang dikemukakan


Gambaran Umum Informan dan Data Informan Pendukung

a. Informan Ang
Ang(20)berasal dari daerah Palembang, dan beragama Islam. Di palembang Ang tinggal bersama orang tuanya. Ayahnya bekerja sebagai pegawai negeri sipil(PNS) dikota Palembang, sedangkan ibunya merupakan wiraswasta. Ang merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Dimana Ang merupakan anak perempuan satu-satunya dikeluarga. Ang mulai mengenal rokok sejak kelas 3 SMP melalui kakak laki-lakinya dan juga teman-teman perempuanya, Ang biasa menghisap rokok dengan jenis rokok Filter Mentol

b. Informan Nt
Nt(22) berasal dari daerah Bangka, dan beragama Islam. Dipalembang Nt tinggal sendiri, Nt mengontrak rumah disalah satu kawasan dikota Palembang. Ayahnya merupakan wiraswasta, sedangkan ibunya tidak bekerja. Nt anak perempuan yang merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, dimana saudara laki-lakinya berjumlah satu orang, sedangkan saudara perempuannya berjumlah satu orang. Nt mulai mengenal rokok sejak ia mulai duduk dibangku kuliah, Nt merokok karena sering melihat teman-teman perempuannya merokok, dan itupun tanpa sepengetahuan orangtua. Jenis rokok yang biasa Nt hisap adalah rokok Filter.

c. Informan Ds
Ds(19) berasal dari daerah Palembang dan beragama Islam. Ia tinggal bersama kedua orangtuanya. Ayahnya bekerja disalah satu perusahaan swasta dikota palembang, sedangkan ibunya tidak bekerja. Ds merupakan anak perempuan pertama dari tiga bersaudara, dimana saudara laki-lakinya berjumlah satu orang. Sedangkan saudara perempuanya berjumlah satu orang. Ds mulai mengenal rokok sejak kelas 3 SMA setelah Ds menonton film dibioskop yang menunjukan adegan rokok pada perempuan, Ds pun mencoba untuk merokok didalam kamar tidur dirumahnya, tanpa sepegetahuan orangtuanya. Layaknya adegan yang tadi ia tonton. Jenis rokok yang biasa ia hisap adalah rokok filter.

d. Inforaman Mr
Mr(21) berasal dari Palembang, dan beragama kristen Protestan. Dipalembang, Mr tinggal bersama kedua orangtuanya, Ayahnya merupakan wiraswasta, sedangkan ibunya tidak bekerja. Mr merupakan anak laki-laki yang ketiga dari lima bersaudara. Dimana saudara laki-lakinya berjumlah tiga orang, sedangkan saudara perempuanya berjumlah satu orang. Mr mulai mengenal rokok sejak kelas 1 SMP dari ayah dan ibunya yang biasa merokok dirumah. Jenis rokok yang biasa dihisap adalah rokok filter menthol.

e. Informan Sr
Sr(22)berasal dari Palembang dan beragama Islam diPalembang Ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Ayahnya merupakan pensiunan pegawai negri sipil (PNS), sedangkan ibunya merupakan wiraswasta. Ia merupakan anak laki-laki bungsu dari tiga bersaudara, dimana ia memiliki dua orang saudara laki-laki. Sr mulai mengenal rokok sejak ia masih duduk dikelas 1 SMA, dari kakak laki-lakinya yang sering ia lihat sedang merokok, dan orang tuanya tau prilaku merokoknya tersebut serta melarang namun larangan orang tuanya tersebut dicuhkan saja oleh informan Sr. Jenis rokok yang biasa dia hisap adalah rokok filter.

Senin, 31 Mei 2010

Latar belakang yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Perempuan di Tower Biliard Palembang Squre

Faktor yang melatar belakangi perilaku individu dapat dibedakan menjadi 2 terdiri dari : pertama, faktor internal yaitu karaktristik orang yang bersangkutan, yang bersifat given (bawaan). Kedua, faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. Faktor lingkungan ini merupakan faktor yang dominan yang mewarnai diperilaku seseorang.


Dengan demikian, remaja berperilaku merokok diantaranya dipengaruhi oleh faktor internal dan ekstrnal. Faktor internal tersebut berasal dari diri individu yang bersangkutan berupa sejauh remaja itu sendiri memang sudah perokok atau mempunyai keinginan untuk menjadi perokok. Remaja yang tidak ingin untuk menjadi perokok tetap tidak akan terpengaruh. Sedangkan faktor eksternal berasal dari lingkungan, seperti lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, dan lain sebagainya.




Faktor lingkungan pergaulan


Kehidupan manusia dipengaruhi oleh kelompoknya. Setiap anggota kelompok memiliki
Peranan-peranan yang diwariskan kepada anggota kelompoknya. Kelompok manusia pertama adalah keluarga, tetangga, teman, sepermainan dan sekolah.


Banyak hal menjadi faktor yang mempengaruhi perilaku merokok perempuan, salah satu faktor yang paling dominan adlah faktor dari lingkungan pergaulan diamana didalamnya terdapat kelompok teman-teman sepermainan sebagai anggota kelompok teman-teman sepermainan sebagai anggota kelompoknya. Lingkungan pergaulan dapat disebut juga sebagai anggota kelompok acuan. Perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh lingkungan.
=>

“Pertamo kali kenal rokok pas SMP, taunyo dari pergaulan, nak cowok nak cewek kawan-kawan aku memang rada-rada rokok. Mereka mempengaruhi aku untuk ikut merokok.jadinyo terpengaruh dan kecaduan”


(awal merokok waktu SMP, dipengauhi oleh pergaulan teman-teman perempuan dan laki-laki. Akhirnya terpengaruh dan menjadi pecandu)


Perilaku merokok dapat dipengaruhi yang dilakukann Ang merupakan perilaku baru yang dilakukannya setelah ia bergaul dengan teman-temannya yang berusia lebih tua dibandingkan denganya. Kelompok teman laki-laki dan perempuannya yang merupakan perokok tersebut menjadi kelompok acuan, sehingga ia mampu melakukan suatu perilaku baru yang tidak ia ketahui sebelumnya yaitu merokok. Perilaku merokok ini pun menjadi cara dalam beradaptasi dengan lingkungan pergaulannya dalam kelompok yang ia miliki.
=>

“aku kenal rokok pas waktu yang SD, karena aku bekawan samo wong yang lebih besak
Dari aku. Karena begaul laju temelok. Padahal Cuma nyubo ahirnyo jadi keterusan”


(kenal rokok pas SD, bergaul dengan orang yang lebih tua, dan akhirnya terpengaruh dan menjadi pecandu)


Lingkungan pergaulan As ketika ia masih duduk dibangku SD telah mempengaruhinya untuk merokok. Karna lingkungan ini terdiri dari teman-tmannya yang kebanyakan merupakan perokok aktif. Kemudian kelompok ini menjadi kelompok acuan As dalam berperilaku yang membawanya pada pembentukan peilaku. serilaku merokok yang hingga saat ini sulit dihentikan.




Faktor keluarga



Yang merupakan agen sosialisasi pertama dan utama dan utama dalam mengenalkan nilai-nilai sosial dan kebudayaan kepada individu yang terdapat didalamnya. Keluarga terbagi atas 2 bagian yakni keluarga inti ayah, ibu dan anak. Keluarga luas, yaitu sistem keluarga yang jumlah anggotanya lebih banyak. Keluarga berperan membina anggota-anggotanya untuk beradaptasi dengan lingkungan fisik maupun lingkungan keluarga tempat ia berada, kemudian akan membentuk sikap, perilaku, identitas sosial, dan sebagainya sebagai anggotanya.
Dari wawancara yang telah dilakukan terhadap informan mengenai perilaku merokok perempuan, dilapangan diperoleh informasi bahwa faktor lain yang mempengaruhi perilaku perempuan selain lingkungan pergaulan yaitu lingkungan pergaulan yaitu dari lingkungan keluarga tempat ia berada itu sendiri.

“Pertamo jingok dari mek dan ubek aku yang merokok. Kareno sering jinggok laju temelok, awalnyo nyubo sembunyi-sembunyi, awalnyp wong tuo dak tau...”

(tau dari orang tua yang merokok akhirnya karena sering melihat, akhirnya mencoba, walaupun sembunyi-sembunyi tanpa pengetahuan orang tua )

Perilaku merokok dilakukan Ci mendapat pengaruh dari kedua orang tuanya tersebut
Merokok dihadapannya, ia pun mencoba untuk mengikuti perilaku yang ditunjukan oleh mereka melalui proses belajar. Perilaku merokok yang dilakukan Ci merupakan mencobakan salah satu bentuk respon setelah mendapat stimulus dari lingkungan tempat ia berada melalui proses belajar tadi secara sembunyi-sembunyi sebagaimana yang telah diungkapkan dalam wawancara tersebut.
Selain melalui perilaku yang ditunjukan secara nyata oleh orang tua, faktor dapat mempengaruhinya perilaku merokok perempuan dalam lingkungan keluarga adalah kurang baiknya penekanan nilai sosial, agama, dengan tujuan yang lebih sulit untuk terlibat dengan rokok, tembakau obat-obatan serta longgarnya pengawasan yang dilakukan oleh orang tua terhadap perilaku anak-anaknya sehari-hari

Pengawasan orang tua terhadap perilaku anaknya sehari-hari sangat penting
Longgarnya pengawasan dari orang tua menjadi stimulus tersendiri bagi As yang kemudian menjadi pemicu untuk melakukan perilaku yang baru yaitu merokok seperti penelitian yang kami lakukan diTower Biliard Palembang Squer dimana pada lokasi ini memang tidak diberlakukan larangan untuk merokok
Faktor keluarga merupakan faktor yang cukup kuat nutuk mempengaruhi individu dalam
berperilaku . karena keluarga merupakan agen sosialisasi awal atau agen penanaman nilai dan norma-norma seperti yang telah diatas tadi. Jika proses sosialisasi yang dilakukan baik, maka akan membentuk perilaku yang baik pula terhadap individu yang terdapat didalamnya, begitu sebaliknya.



Faktor Film



Pesatnya perkembangan teknologi informasi dewasa ini seperti media cetak dan media elektronik, memberikan pengaruh bagi perkembangan diri seseorang. Media elektronik seperti televisi, radio, video, laser disc, bioskop. Memberikan informasi yang sangat beraneka ragam dalam bentuk hiburan, pendidikan, dan promosi. Penyajiannya biasanya dikemas sangat menarik sehingga akan terpikat penonton atau terdengar akan pesan yang akan disampaikan.
Kehadiran media tersebut baik secara langsung maupun tidak dipengaruhi sikap dan perilaku masyarakat. Nilai-nilai dan norma yang disampaikan akan tertanam dalam diri individu yang menikmatinya melalui penglihatan maupun pendengaran. Hal ini terbukti dari Fb yang memulai rokok dari melihat adegan tersebut di film yang ia tonton.
Yang diperankan wanita yang menghayatinya.sehingga Fb tertarik mengikuti adegan tersebut.
Nilai-nilai yang tertanam pada Fb yang menganggap kesan keren bahwa jika seorang perempuan merokok merupakan hal yang wajar dan sesuatu perilaku yang dapat membentuk kesan “keren”. Adegan tersebut menjadi stimulus yang kemudian berdampak
Pada respon yang dilakukan Eb dikamar tidurnya yakni mencoba merokok agar dapat terlihat keren layaknya adegan pada film yang telah ia tonton tersebut.



Faktor lokasi



Lokasi Tower Biliard Palembang Squre yang dinilai bebas dan nyaman sangat mempengaruhi perilaku merokok perempuan pada area public servis/biliard tersebut. Hal ini diakui oleh hampir semua informan berinisial Ci:

“ tempatnyo lemak, dingin, disini jugo jadi tempat aku samo kawan-kawan aku kumpul, ngobrol mbak, kalo aku merokok dewek tu dak lemak...

(tmpatnyo enak, nyaman, soalnya juga jadi tempat saya bersama teman-teman saya,kulpul-kumpuk,ngobrol mbak, lagi pula kalo merokok sendirian itu tidak enak..enaknya rame-rame bersama teman-teman)

Selain dari faktor suasana yang nyaman , dari pegawainya pun tidak pernah-pernah bersikap tidak ramah dan tidak baik menanggapi perilaku perempuan yang merokok tersebut. Hal ini berdasarkan informasi berinisial As yang mengatakan : “ aku merokok disini kareno katek yang ganggu, mbaknyo baek-baek, katek yang nyerode’i...(saya merokok disini karena tidak ada yang menggangu, mbaknya(pegawai)nkarena tidak ada yang menggangu, tidak ada yang memberi komentar negatif.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons